Rabu, 18 Mei 2011

Teknik Pengajaran Berbicara


Pengantar
            Menurut Nuraeni, berbicara adalah proses penyampaian informasi dari pembicara kepada pendengar dengan tujuan terjadi perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan pendengar sebagai akibat dari informasi yang diterimanya[1]. Dari pengertian tersebut kita ketahui bahwa dalam kegiatan berbicara ada beberapa unsur yaitu : komunikator (pembicara), kamunikan (pendengar), pesan (informasi), tujuan berbicara (perubahan  yang diinginkan).
Berbicara merupakan suatu proses penyampaian informasi, ide, atau gagasan dari pembicara kepada pendengar. Dalam proses berbicara, pembicara merupakan komunikator, dan pendengar merupakan komunikan. Dalam menyampaikan informasi, secara lisan seorang pembicara harus mampu menyampaikannya dengan baik dan benar agar informasi tersebut dapat diterima oleh pendengar. Oleh karena itu, kemampuan berbicara yang baik, menjadi faktor yang sangat mempengaruhi kemahiran seseorang dalam penyampaian informasi secara lisan.
Kemampuan berbicara yang baik adalah kecakapan seseorang dalam menyampaikan  sebuah informasi dengan bahasa yang baik, benar dan menarik agar dapat dipahami pendengar. Untuk menjadi pembicara baik, pembicara harus mampu menangkap informasi secara kritis dan efektif, hal ini berkaitan dengan aktivitas menyimak. Apabila pembicara merupakan seorang penyimak yang baik maka ia mampu menangkap informasi dengan baik.
Dari uraian tersebut, kita tahu bahwa berbicara bukanlah pekerjaan mudah yang tidak perlu dipelajari.  Untuk itu kita sebagai seorang guru harus mampu menjadi seorang pembicara yang baik karena kita selain sebagai seorang pendidik juga sebagai seorang informan yang memberikan informasi tentang ilmu pengetahuan kepada siswa.


Dalam, kegiatan belajar mengajar guru juga harus membantu siswa dalam meningkatkan keterampilan dan kemampuan berbicara mereka. Karena banyak fakta menunjukkan tidak semua siswa berani dan mau berbicara di depan kelas, itu disebabkan siswa belum terampil berbicara karena kurangnya latihan[2].
Seorang guru harus menentukan teknik atau metode yang tepat dalam pengajaran berbicara ini untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa mengingat bahwa pengajaran berbicara merupakan salah satu usaha meningkatkan kemampuan berbahasa lisan siswa.

Strategi Pengajaran Berbicara
Penerapan Model Ellis dan Sinclair (Tarigan, 2009: 192) pada pembelajaran berbicara, yaitu:
a.                   Personal Strategies yang digunakan adalah menemukan kesempatan praktik latihan dan memimpin atau mengarahkan percakapan mental imajineri.
b.                  Risk Taking yang digunakan adalah penggunaan teknik – teknik keraguan untuk menyediakan waktu berpikir dalam suatu percakapan, latihan, dan bertahan pada kosakata sendiri.
c.                   Getting Organized yang dipakai adalah pengorganisasian sumber, materi dan waktu.

Sedangkan, strategi yang diajarkan bagi kegiatan berbicara adalah :
1.                  Subtitution : dalan strategi ini teknik yang digunakan adalah menggunakan sinonim, parafrase, dan gerak – gerik mengkomunikasikan makna.
2.                  Cooperation : teknik dalam strategi ini adalah bekerja pasangan atau kelompok untuk menyelesaikan tugas.
3.                  Self – Evaluation : tekniknya adalah mengecek kemampuan sendi komunikasi sukses. 



Teknik Pengajaran Berbicara
            Dalam upaya meningkatkan keterampilan berbicara, guru harus cermat dalam memilih metode atau teknik dalam pengajaran berbicara.  Metode atau teknik berbicara yang baik harus memenuhi berbagai kriteria yang berkaitan dengan tujuan, bahan, pembinaan keterampilan proses, dan pengalaman belajar. Kriteria – kriteria itu antara lain:
a.                   Relevan dengan tujuan pengajaran dan jenjang pendidikan
b.                  Memudahkan siswa memahami materi pengajaran
c.                   Mengembangkan butir – butir keterampilan proses
d.                  Dapat merealisasikan pengalaman belajar
e.                   Merangsang siswa untuk belajar
f.                   Mengembangkan penampilan siswa
g.                  Menggunakan sarana yang mudah
h.                  Mudah dilaksanakan, serta
i.                    Menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan.

Selain teknik pengajaran, guru juga harus memenuhi syarat untuk menjadi guru keterampilan bebicara. Dalam pengajaran keterampilan berbicara, syarat yang harus dipenuhi oleh seorang guru adalah
1.                  Penguasaan materi tentang keterampilan mengajar, serta mampu mengajarkannya kepada siswa.
2.                  Memiliki banyak pengalaman yang beraneka ragam.
3.                  Mengetahui seluk – beluk tentang berbicara.
4.                  Mengetahui aneka teknik  berbicara.
5.                  Mampu mempraktikkannya dalam pengajaran berbicara.

Pengetahuan guru keterampilan tentang teknik – teknik pengajaran berbicara yang banyak serta pemilihan metode pengajaran yan tepat memberikan keuntungan – keuntungan , antara lain:
1)                  Guru dapat membuat pengajaran yang lebih bervariasi.
2)                  Dengan metode pengajaran yang tepat, problematika belajar mengajar dapat dipecahkan.
3)                  Dengan banyaknya  pengetahuan teknik pengajaran berbicara yang bervariasi, seorang guru akan menjadi lebih percaya diri, sehingga mampu mengajarkan keterampilan berbicara.
4)                  Guru dapat menggalakkan CBSA, dengan memilih metode yang tepat dalam pengajaran.
5)                   Dengan memilih dan menggunakan metode yang tepat akan menciptakan suasana belajar yang kondusif, serta
6)                  Dapat mencapai tujuan belajar.
Berikut beberapa metode pengajaran berbicara untuk memudahkan mengenal, memahami, menghayati, dan dapat dipraktikkan dalam pengajaran berbicara di sekolah, yaitu:
a.                   Ulang ucap
b.                  Lihat ucap
c.                   Memerikan
d.                  Bertanya
e.                   Menjawab pertanyaan
f.                   Percakapan
g.                  Paraphrase
h.                  Reka cerita gambar
i.                    Bercerita
j.                    Bermain peran (role playing)
k.                  Wawancara
l.                    Diskusi
m.                Cerita berantai

Azies dan Alwasilah (1996) tiga jenis teknik dalam pengajaran berbicara, yaitu :
a.                  Diskusi dan debat
Diskusi dan debat merupakan kegiatan berbicara yang paling mudah dilaksanakan, karena dalam diskusi siswa tidak dibatasi oleh topik – topik tertentu. Semua topik yang bermanfaat untuk dipikirkan dapat dijadikan bahan atau materi dalam kegiatan berbicara.
Dengan memasukkan topik – topik menarik yang sedang terjadi di sekitar kita, dalam kegiatan berbicara, guru bisa menciptakan suasana mental pembelajar yang kita kehendaki. Dalam sebuah diskusi kita bisa membentuk kelompok, karena dalam situasi kelompok kecil setiap orang berkesempatan mengemukakan dan bersilang pendapat dengan siswa lain.
Kemampuan interaksi siswa akan berkembang secara alami, seperti kontak mata, bahasa tubuh selain itu juga siswa mendapat pelajaran baru dalam kegiatan diskusi, yaitu siswa dapat belajar bagaimana melakukan strategi giliran berbicara, bagaimana menginterupsi, dan bagaimana mengungkapkan ketidaksetujuan atau kekecewaan.

b.                  Drama (Role Playing)
Bermain peran ( role playing) merupakan teknik yang banyak dipakai dalam program bahasa. Selain menyenangkan, bermain peran juga menawarkan pelarian mentak dari ruang suasana kelas. Teknik ini dapat dilakukan secara terkontrol, seperti mengikuti perkembangan logis suatu dialog dalam sebuah buku, atau bisa pula dilakukan secara bebas dengan membebaskan imajinasi dan kreativitas.

c.                   Information Gap
Information gap merupakan salah satu teknik pengajaran berbicara. Istilah information gap ini mengacu pada bagian tertentu yang tak terpisahkan dalam komunikasi sehari – hari, yaitu pembicara mengatakan sesuatu yang belum diketahui oleh pendengar. Dan pendengar secara aktif mendekode dan mereaksi apa yang ingin dsampaikan oleh pembicara.

Selain tiga tenik yang telah diuraikan, ada satu teknik yang terbilang efektif dalam pengajaran berbicara, yaitu teknik cerita berantai. Teknik cerita berantai adalah salah satu teknik dalam pengajaran berbicara yang menceritakan suatu cerita kepada siswa pertama, kemudian siswa pertama menceritakan kepada siswa kedua, dan seterusnya kemudian cerita tersebut diceritakan kembali kepada siswa yang pertama[3].
Pemilihan teknik cerita berantai  ini, karena teknik ini mampu mengajak siswa untuk berbicara. Selain itu, dengan teknik ini, siswa termotivasi untuk berbicara di depan kelas serta mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi. Di samping itu siswa diharapkan mempunyai keberanian dalam berkomunikasi.
Hal tersebut sepadan dengan pendapat Tarigan, menurutnya penerapan cerita berantai ini dimaksudkan untuk membangkitkan keberanian siswa dalam berbicara. Jika siswa telah menunjukkan keberanian, diharapkan kemampuan berbicaranya juga meningkat.
Penggunaan teknik cerita berantai ini memberikan beberapa manfaat dalam upaya peningkatan keterampilan berbicara siswa, yaitu:
1.                  Pembelajaran berlangsung lebih efektif
2.                  Keaktifan siswa lebih meningkat
3.                  Terjadi interaksi yang positif antara siswa dengan siswa maupun antar siswa dengan guru
4.                  Proses pembelajaran berjalan lebih terarah dan lebih menarik
Setiap teknik tentu memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu pula dengan teknik ini. Kelemahan dalam teknik ini, yaitu:
a.                   Membutuhkan waktu yang relatif lebih lama dari waktu belajar normal
b.                  Memerlukan kecermatan dalam  memberikan penilaian
c.                   Kalimat yang relative panjang sulit untuk disimak
Dalam memilih metode pengajaran, guru tidak hanya melihatnya dari sisi manfaat dan tujuan pengajaran saja. Tetapi, guru juga harus menyesuaikannya dengan kapasitas kemampuan siswa. Siswa berpikir bahwa kemampuan berbicara bahasa adalah produk dari belajar bahasa, tetapi berbicara juga merupakan bagian penting dari proses belajar bahasa. Oleh karena itu, ada beberapa instruktur yang efektif yang dapat digunakan dalam mengajar siswa, yaitu :
a.                  Menggunakan Respon Minimal
Bahasa peserta didik yang kurang percaya diri dalam kemampuan mereka untuk berpartisipasi dengan sukses dalam interaksi lisan sering mendengarkan dalam keheningan sementara yang lain yang bicara. Salah satu cara untuk mendorong peserta didik tersebut untuk mulai berpartisipasi adalah untuk membantu mereka membangun suatu persediaan tanggapan minimal yang mereka dapat digunakan dalam berbagai jenis pertukaran.
b.                  Mengenali Script 
Script merupakan beberapa situasi komunikasi yang berhubungan dengan seperangkat informasi yang diprediksi dan diucapkan. Dalam script, hubungan antara giliran pembicara dan salah satu yang berikut sering dapat diantisipasi.
c.                   Menggunakan Bahasa Untuk Berbicara Tentang Bahasa (Metalingual)
Metalingual dapat digunakan siswa untuk membantu diri sendiri dalam pengetahuan mereka tentang bahasa dan    keyakinan mereka dalam menggunakannya. Ini instruktur membantu siswa belajar untuk berbicara sehingga siswa dapat menggunakan berbicara untuk belajar. Instruktur juga dapat memberikan strategi siswa dan frase yang digunakan untuk klarifikasi dan cek pemahaman.
Dari beberapa teknik dan instruktur yang telah diterapkan guru memilih metode yang tepat dalam pengajaran berbicara, karena berbicara merupakan proses interaksi lisan yang sangat penting dalam kegiatan komunikasi.


[1] Tarmizi. 2009. Penerapan Teknik Cerita Berantai untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara Siswa. http// tarmizi.wordpress.com (online) 2 November 2010
[2] Azies dan Alwasilah (1996: 93) proses belajar berbicara akan menjadi lebih mudah jika si pembelajar secara aktif terlibat dalam upaya – upaya untuk berkomunikasi.
[3] Tarigan (1990) dalam Tarmizi. 2009. Penerapan Teknik Cerita Berantai untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara Siswa. http// tarmizi.wordpress.com (online) 2 November 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar