Rabu, 18 Mei 2011

Teknik Pengajaran Menulis


Pengantar
Menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa diakui oleh umum. Menulis merupakan keterampilan yang mensyaratkan penguasaan bahasa yang baik. Dalam belajar bahasa, menulis merupakan kemahiran tingkat lanjut. Semi (1995: 5)[1] berpendapat bahwa pengajaran menulis merupakan dasar untuk keterampilan menulis.
            Menulis sebagaimana berbicara, merupakan keterampilan yang produktif dan ekspresif. Perbedaannya, menulis merupakan komunikasi tidak bertatap muka (tidak langsung), sedangkan berbicara merupakan komunikasi tatap muka (langsung) (Tarigan , 1994: 2). Menurut Azies dan Alwasilah (1996: 128), keterampilan menulis berhubungan erat dengan membaca. Hal ini diakui pula oleh Semi (1995: 5). Semakin banyak siswa membaca, cenderung semakin lancar dia menulis.
Dalam pengajaran menulis ini, Nunan (Azies dan Alwasilah, 1996) mengingatkan bahwa dalam mengembangkan aktivitas dan prosedur pengajaran bahasa sangat penting bagi guru untuk menyadari perbedaan antara bahasa lisan dan bahasa tulis. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa konteks dan tujuan penggunaan bahasa menentukan bentuk bahasa itu sendiri, maksudnya bahasa lisan dan bahasa tulis berfungsi untuk memenuhi fungsi yang berbeda, akan menunjukkan karateristik yang berbeda


Menurut Halliday[2] fungsi bahasa tulis  ddalam kehidupan modern saat ini adalah:
  1. Terutama untuk tindakan, contoh rambu – rambu atau simbol – simbol di tempat umum.
  2. Terutama untuk informasi, contoh surat kabar, majalah, laporan dan sejenisnya,
  3. Terutama untuk hiburan, contoh novel, drama, puisi, dll.
Perbedaan yang paling penting antara bahasa lisan dan bahasa tulis adalah yang berkaitan dengan akurasi. Menurut Hamer (1993)[3] yang paling penting dalam bahasa tulis adalah kebutruhan yang lebih besar akan pengorganisasian yang logis dari pada abahasa lisan, karena pembaca harus memahami apa yang ditulis tanpa bisa meminta penjelasan atau mengandalkan penggunaan nada suara penulis.

Strategi Pengajaran Menulis
Penerapan Model Ellis dan Sinclair (Tarigan, 2009: 195) pada pembelajaran menulis adalah 
  1. Personal strategies : pengumpulan model – model berbagai tipe penulisan (pengelompokan, perluasan pengetahuan tentang wacana); membaca dalam hati.
  2. Risk taking : penggunan kosakata yang telah diketahui dan struktur – struktur yang telah dikuasai.
  3. Getting Organized : pengorganisasian sumber, materi dan waktu.



Teknik Pengajaran Menulis
            Materi menulis biasanya berkaitan dengan paragraf atau wacana. Sebelum pembelajar mendalami wacana secara luas. Jika ada materi mengarang (komposisi), materi paragraf haruslah menjadi dasar pemahaman komposisi. Artinya, pengajaran menulis, sebagaimana juga materi lain, disajikan secara bertahap. Untuk berlatih menulis, pembelajar bisa ditugasi membuat surat, konsep monolog (pidato) atau konsep dialog, atau iklan.
            Dalam kaitan dengan menulis, pembelajar harus memiliki kemampuan dalam menggunakan ejaan, sebagai kaidah tata tulis. Ejaan ynag sifatnya sangat teknis tidak perlu secara khusus diajarkan, mereka cukup mempelajarinya di rumah dengan dibekali buku pedoman. Sekali-sekali bisa juga pembelajar dilatih menggunakan ejaan. Pelatihan menulis paragraf atau karangan yang lebih kompleks merupakan sarana untuk melatih menggunakan ejaan. Ejaan hanya merupakan bagian dari materi menulis. Agar siswa  dapat menulis dengan baik maka perlu menguasai beberapa keterampilan dasar, seperti:
a.                  Curah gagasan (brainstroming)
Langkah pertama adalah tuliskan gagasan utama dalam kertas kosong di tengah halaman, lingkarilah. Kemudian tuangkan semua asosiasi yang dapat Anda buat untuk kata tersebut. Setelah itu lanjutkan dengan cara yang sama yaitu menuliskan semua asosiasi kata yang muncul sesudahnya. Jadi ini seperti membuat network kata-kata. Jika satu asosiasi memicu satu rantai dari yang lain, maka lakukanlah, dan tulislah semua pemikiran yang dipicunya, walaupun mereka tampak tidak berhubungan.


b.                  Kontemplasi
Kontemplasi adalah suatu teknik menggunakan pikiran kita seperti sebuah lampu senter (searchlight) untuk mencari dan menemukan informasi baru. Teknik ini sangat ampuh kita gunakan untuk mengembangkan suatu gagasan atau topik dan menuangkannya ke dalam peta pemikiran. Kita menggunakan pikiran kita untuk melakukan “searching” informasi atas topik atau gagasan utama yang kita pilih.
c.                   Membuat peta pikiran (mind mapping)
Ini adalah teknik yang sangat efektif yang dapat kita gunakan dalam membaca dan membuat tulisan (artikel atau pun buku). Jika dalam membaca kita menggunakan teknik peta pikiran untuk memahami kerangka berpikir penulis, dalam menulis kita gunakan teknik ini untuk mengembangkan kerangka berpikir tulisan kita.
d.                  Relaksasi
Pada prinsipnya dikatakan bahwa otak atau pikiran kita lebih mudah menyerap dan mengingat informasi pada saat kondisi pikiran kita relaks yang ditunjukkan dengan frekuensi gelombang otak yang rendah. Selain itu relaksasi merupakan cara yang efektif untuk mengaktifkan otak kanan. Karena pada gelombang otak yang relaks (alpha) terjadi pertemuan antara otak kiri dan otak kanan, antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar, antara orientasi ke luar dan orientasi ke dalam.


[1] Dikutip : Wahya. “Pengajaran Keterampilan Menulis pada Program Pengajaran Bahasa Indonesia uutuk  Penutur Asing di Universitas Padjajaran
[2] Azies dan Alwasilah ( 1996: 129)
[3] Azies dan Alwasilah ( 1996: 131)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar